Kamis, 24 Januari 2013

Kaidah Tentang Rafa'nya Isim


قَاعِدَةٌ عَنْ رَفْعِ الْأَسْمَاءِ
KAIDAH TENTANG RAFA’NYA ISIM-ISIM
Penjelasan tentang isim-isim atau kata benda-kata benda yang marfu (berkedudukan rafa’)
Marfu’ adalah salah satu kedudukan di antara empat kedudukan Nahwu, yaitu:
(marfu’/rafa’)(manshub/nashab)(majrur/khafadh)(majzum/jazm)
Tanda marfu’ untuk isim adalah: dhammah (ُ) dan Wau (...ـوْ/...ـوْنَ)
Isim yang memiliki kedudukan marfu terdiri dari tujuh macam, yaitu fa’il, maf’ul yang dibuang fa’ilnya, mubtada’, khabar, isim kana dan saudaranya, khabar inna, serta isim yang mengikuti marfu’ (na’t, ‘ataf, taukid, dan badal)
الفاعل
Fa’il adalah isim yang berkedudukan marfu’ karena menjadi subjek (pelaku). Fail biasanya terletak setelah fi’il (kata kerja). Jadi, fa’il hanya ada pada kalimat yang berupa jumlah fi’liyah, yaitu kalimat yang dimulai dengan kata kerja
قَامَ زَيْدٌ
ذَهَبَ الرَّجُلُ
فَهِمْتُ الدَّرْسَ
تَتَعَلَّمُ اللُّغَةَ الْعَرَبِيَّةَ
Fail dibagi menjadi dua:
Fail isim zahir (فاعل اسم ظاهر), yaitu subjek yang berupa sesuatu atau nama.
Fail isim dhamir (فاعل اسم ضامر) , yaitu subjek yang berupa kata ganti.
اَلْمَفْعُوْلُ الَّذِى لَمْ يُسَمَّ فَاعِلُهُ
Maf’ul (objek) yang tidak disebutkan fa’ilnya (subjek/pelakunya) memiliki kedudukan marfu’ karena dia menduduki tempat fa’il. Dalam bahasa indonesia, kalimat seperti ini disebut kalimat pasif
Maf’ul yang menduduki tempat fail disebut NAIBUL FA’IL
ضُرِبَ زَيْدٌ
يُضْرَبُ الرَّجُلُ
بُنِيَ الْإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ

اَلْمُبْتَدَأ
Mubtada’ adalah isim yang memiliki kedudukan marfu’ karena tidak terpengaruh oleh amil apapun. Hal itu terjadi karena mubtada’ berada di awal kalimat
اَلْخَبَرُ
Khabar adalah penjelas dari mubtada’. Karena disandarkan pada mubtada’, maka khabar juga sama seperti mubtada’, kedudukannya marfu’. Khabar yang marfu’ adalah khabar mufrad
زَيْدٌ قَائِمٌ
اَلْمَسْجِدُ كَبِيْرٌ
اَلْمَدْرَسَةُ نَظِيْفَةٌ

اِسْمُ كَانَ وَأَخَوَاتِهَا
Pola kalimat dengan diawali kana adalah salah satu pola kalimat khusus dalam Bahasa Arab yang menyebabkan ketentuan-ketentuan khusus pula.
Kalimat setelah kana memiliki isim dan khabar. Isim pada kalimat inilah yang berkedudukan marfu

Kana dan saudara-saudaranya:
1.     كان (menjadi/yang terjadi)
2.     ليس (bukan/tidak)
3.     صار (menjadi)
4.     بات (semalamj)
5.     اصبح (di waktu pagi)
6.     اضحى (di waktu dhuha)
7.      امسى (di waktu sore)
8.     ظلّى (senantiasa/masuk waktu siang
9.     ما زال (senantiasa/masih)
10. ما برح (senantiasa/masih)
11. ما فتئ (senantiasa)
12. ما انفك (senantiasa)
13. ما دام (selama/selamanya)
كَانَ زَيْدٌ قَائِمًا
كَانَ مُحَمَّدٌ رَسُوْلَ اللهِ
مَا زَالَ الْوَقْتُ مُبَكِّرًا

خَبَرُ إِنَّ وَأَخَوَاتِهَا
Pola kalimat dengan diawali inna adalah salah satu pola kalimat khusus dalam Bahasa Arab yang menyebabkan ketentuan-ketentuan khusus pula.
Kalimat setelah inna memiliki isim dan khabar. Khabar pada kalimat inilah yang berkedudukan marfu
Inna dan saudara-saudaranya:
1.     إنّ/أنّ (sesungguhnya)
2.     لكنّ/ولكنّ (tetapi)
3.     كأنّ (seakan-akan)
4.     ليت (tidaklah)
5.     لعلّ (bisa jadi, mungkin saja, semoga saja)
إِنَّ زَيْدًا قَائِمٌ
إِنَّ اللهَ جَمِيْلٌ
كَأَنَّ وَجْهُكَ قَمَرٌ

اَلتَّابِعُ لِلْمَرْفُوْعِ
Isim-isim yang mengikuti sebuah kata yang marfu’, maka menjadi marfu’ pula. Ada empat macam tabi’: Na’t, ‘ataf, taukid dan badal
اَلنَّعْتُ
Na’t adalah isim yang mengikuti sebuah kata dan berfungsi menjadi sifat.
جَاءَ زَيْدٌ اَلْكَرِيْمُ
اَلْمُسْلِمُوْنَ الْمُتَّقُوْنَ يُطِيْعُوْنَ اللهَ

اَلْعَطْفُ
‘Ataf adalah isim yang mengikuti sebuah kata dengan diselingi oleh huruf ‘ataf.
جَاءَ زَيْدٌ ثُمَّ كَرِيْمٌ
ذَهَبَ الْمُدَرِّسُوْنَ وَالطُّلاَّبُ إِلَى الْمُخَاضَرَةِ

اَلتَّوْكِيْدُ
Taukid adalah isim yang mengikuti sebuah kata dan berfungsi menguatkan kata tersebut.
جَاءَ زَيْدٌ نَفْسُهُ
يَتَطَهَرُ الْمُسْلِمُوْنَ أَنْفُسُهُمْ فِى رَمَضَانَ

اَلْبَدَلُ
Badal adalah isim yang mengikuti sebuah kata dan isim itu memberi status tambahan.
جَاءَ زَيْدٌ أَخُوْكَ
يَشْرَحُ الْمُدَرِّسُ رَاشِدِى اللُّغَةَ الْعَرَبِيَّةَ


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar